Cerita Singkat Figur Pribadi
Kekuatan Keyakinan Orangtua
Nama saya Reja Anwar Fauzi. Saya
hidup dari keluarga yang sederhana dan mempunyai seorang kakak perempuan. Saya
lahir di Ciamis dan sekarang tinggal di Cisaranten Kulon Arcamanik Bandung.
Setiap manusia pasti mempunyai sosok yang dibanggakan, diidolakan, dikagumi, dihormati,
dan bahkan dituruti setiap gerak gerik langkahnya. Banyak orang yang sukses dan
berhasil karena dilatarbelakangi oleh seseorang yang membuat semangatnya
terpecut.
Begitupun dengan saya, yang
hanya orang biasa tanpa kesempurnaan. Saya memiliki sosok orang yang paling
dicintai dan dibanggakan tanpa adanya rasa menyesal mencintainya. Dia adalah
orangtua saya yang tak kenal lelah mendidik, membiayai saya baik dari segi
materi, akhlak, ataupun moral. Baik disaat suka, gembira, lapang, ataupun
disaat duka, sedih, dan sempit. Mereka memberi tanpa pamrih, hanya mengharapkan
saya dan saudara saya menjadi orang yang sholeh dan berguna bagi agama bangsa
dan negara.
Sebelum masuk dibangku
sekolah dasar (SD), saya banyak diajarkan oleh orangtua mengenai membaca,
menulis dan berhitung (calistung). Dan bukan hanya itu saja, orangtua dengan
kesabarannya mengajarkan saya mengenai membaca Al-Quran (Iqro), tatacara cara
sholat, dan dasar-dasar fiqh yang biasa dilakukan sehari-hari. Walaupun sifat
saya pada saat anak-anak itu terbilang nakal, wajarlah anak-anak.
Orangtua saya bukanlah
pegawai negeri, bukan juga pengusaha. Bapak saya tamatan SLTA dan ibu saya
hanya tamatan SLTP. Sehari-harinya hanya mengajar anak-anak Madrasah Diniyah
Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang mereka rintis sejak dulu. Walaupun bukan dari tamatan perguruan tinggi, namun cara mereka
dalam mengajarkan suatu hal kepada anak baik dari segi ilmu keagamaan atau
akhlak tidak kalah bagusnya dengan guru-guru yang berijazah perguruan tinggi.
Dengan kesabaran dan
keuletannya, mereka dapat menyampaikan segala ilmu yang dimilikinya dengan
penuh kegembiraan. Sehingga tidak anak-anak yang mereka didik menjadi orang
yang sukses dan berakhlak.
Selain itu, untuk mengisi
waktu luang, bapak berjualan pakaian dengan menjajalkannya kesekitar kampong
dekat rumah. Karena diam dikampung, orangtua saya juga terkadang pergi ke sawah
untuk bertani.
Tetapi entah mengapa,
walaupun orangtua saya berpenghasilan yang
tidak begitu besar, namun bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai saat
ini. Kakak saya bisa sekolah sampai lulus jenjang S1 dan saya alhamdulillah
bisa sampai jenjang saat ini.
Banyak sekali pelajaran yang
orangtua ajarkan kepada saya, baik secara langsung ataupun hanya dengan gerak
geriknya. Dan saya tentu sangat mengingatnya. Karena orangtua tak ingin melihat
anaknya mati karena tak punya ilmu.
Oleh karena itu, orangtua
selalu mendorong, memotivasi, meyakinkan dan mendoakan saya agar selalu taat
dalam mencari ilmu agar menjadi orang sholeh dan dapat mengamalkan ilmunya.
Sama halnya dengan apa yang dilakukan kepada kakak saya. Mereka selalu bilang “keun
tong teuing sagala dipikiran budak mah, aya Gusti ieuh”, itulah kata-kata
yang selalu meyakinkan saya, sampai saat ini.
Suatu hal yang paling mebuat
sedih, ketika saya sedang duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah (MTs), bapak
ditimpa musibah stroke ringan. Banyak orang yang sudah berdatangan menengok,
dan membuat semakin sedih. Tapi alhamdulillah dengan ikhtiar berobat bisa
sembuh kembali. Bapak memang orang yang hebat tak kalah dengan ibu. Bapk bisa
melawan penyakitnya dengan penuh keyakinan.
Namun efeknya, pada saat saya
duduk dibangku MAN, kesehatan bapak kurang stabil, mudah sekali terkena
penyakit ringan seperti, batuk dan meriang. Namun tidak memperlihatkan secara
langsung apa yang bapak rasakan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengannya.
Hanya ibu yang tau, mereka sengaja menyembunyikannya terhadap saya agar tidak
menjadi beban pikiran. Dengan semampunya mereka membiayayi pernikahan kakak
saya dan pembiayaan saya yang masih sekolah di MAN.
Hal yang menharukan ketika
mereka merelakan putinya yaitu kakak saya pergi dengan suaminya. Mungkin amat
terasa kehilangan. Karena saya tinggal dipondok dan kakak tinggal bersama
suaminya, banyak sekali yang dirahasiakan orangtua. Baik dari sisi kesehatan
ataupun materi. Mereka hanya ingin membahagiakan anak-anaknya.
Dan alhamdulillah dengan
segala keyakinan dan usaha yang maksimal, mereka dapat membiayai saya saat
masuk ke UIN Bandung. Mereka mengajarkan saya bahwa rezeki itu udah ditentukan
masing-masingnya, jadi tidak ada kata putus asa dalam hidup, asal berusaha
dengan maksimal.
Ketika saya menginjak
semester tiga, hal yang membuat saya hampir putus asa terjadi. Yaitu ketika
bapak saya terkena penyakit komplikasi dan dibawa ke rumah sakit. Dua minggu
saya dan keluarga merwat dirumah sakit dengan penuh kekhawatiran. Sampai Allah
berkehendak untuk membawa bapak dari dunia. Itulah hal yang membuat saya jatuh
putus asa, tanpa semangat ekstra. Namun apalah daya yang hanya manusia biasa.
Saya menyadari mungkin jalan yang terbaik memang hal yang seperti ini. Dan ibu
sayalah yang setiap hari mendorong dan meyakinkan saya seperti apa yang biasa
dilakukan bapak pada semasa
hidupnya, walaupun dengan menyembunyikan kesedihannya dibalik kilauan air mata
yang ada pada ibu. Ibulah yang sekarang ini menjadi sosok ganda yang selalu
mensuport saya berbagai hal. Namun, perginya bapak tidak terasa karena wajahnya
dan keberadaanya selalu ada dan terkenang didalam hati.
Mudah-mudah bapak ditempatkan
di tempat yang mulia. Dan ibu selalu diberikan kekuatan dan kesabaran dalam
menjalani setiap aktivitas di kehidupan sehari-harinya.
Komentar
Posting Komentar